Loading Now

MENATAP SURGA, MELANGKAH DI DUNIA

BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian)

Kamis, 29 Mei 2025 Hari Raya Kenaikan Tuhan

Kisah Para Rasul 1:1-11; Efesus 1:17-23; Ibrani 9:24-28; 10:19-23; Lukas 24:46-53

MENATAP SURGA, MELANGKAH DI DUNIA

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, kita pasti pernah menatap langit dan bertanya dalam diam: Ke mana batas langit ini? Pertanyaan ini serentak menggugah pertanyaan lain, yakni ke mana arah hidupku? Atau bagaimana masa depanku? Dalam bentangan jagat yang luas dan dalam dunia yang bergerak cepat penuh ketidakpastian, masa depan sering terasa seperti kabut yang bergerak di langit kian kemari, sehingga menggerogoti rasa ingin tahu, namun juga menyisakan kecemasan. Akan tetapi hari ini, Tuhan memberikan jawaban yang pasti tentang kegalauan masa depan kita dalam peristiwa Kenaikan Tuhan, bahwasannya Kristus telah naik ke surga bukan untuk menjauh, tetapi untuk membuka jalan bagi kita semua menuju masa depan kekal. Sebuah masa depan yang pasti dalam pergumulan yang tidak ringan. Hal ini bukan sebagai rahasia yang menakutkan, tetapi sebagai janji keselamatan yang meneguhkan kita.

Saudara-saudari terkasih, dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, kita mendengar bagaimana Yesus, setelah menampakkan diri selama 40 hari, naik ke surga di hadapan para murid. Momen ini adalah penutup dari kehadiran fisik Yesus di dunia, namun sekaligus pembuka perutusan Gereja. Dua malaikat yang menegur para murid karena “hanya menatap ke langit” menyampaikan pesan penting bahwa iman bukan sekadar menunggu, tetapi terus bergerak dan melangkah maju. Kenaikan bukan akhir dari kisah Yesus, melainkan awal dari kisah Gereja, kisah hidup dan masa depan kita semua. Kenaikan Kristus bukalah pelarian ke angan-angan surgawi, tetapi undangan untuk menjalani hidup di dunia ini dengan misi, yaitu menjadi saksi Kristus “sampai ke ujung bumi.” Jadi Kenaikan bukan akhir, melainkan awal dari perutusan. Kita mulai diutus bukan saja ke tempat-tempat jauh, tetapi dimulai dari rumah-rumah kita, komunitas kita, dan tempat kerja kita, serta lingkungan kita.

Sementara itu hari ini kita juga diteguhkan oleh penulis surat kepada orang bahwa Yesus yang naik ke surga bukan menghilang, tetapi masuk ke dalam tempat kudus surgawi sebagai Imam Agung. Ia tidak datang membawa darah kurban sembelihan, melainkan membawa diri-Nya sendiri sebagai persembahan sempurna. Karena itu, kita semua kini memiliki jalan yang terbuka menuju Allah. Ini adalah undangan untuk hidup dengan hati yang tulus, iman yang teguh, dan pengharapan yang tidak goyah. Kristus yang naik ke surga adalah Kristus yang terus memperjuangkan kita di hadapan Bapa. Itulah kekuatan rohani yang menopang kita dalam peziarahan hidup ini.

Kadang kita merasa sendiri, terpisah dari orang lain. Namun untuk bagaimana seharusnya membangun kebersamaan dan meretas jembatan perpisahan, Pengijil Lukas menegaskan bahwa peristiwa Kenaikan Yesus bukanlah perpisahan yang menyedihkan melainkan jembatan baru yang menghubungkan dunia dan surgawi. Mungkin karena itu, murid-murid tidak meratap ketika Yesus naik ke surga. Mereka mendapat kekuatan karena Yesus memberkati mereka dulu baru Ia naik ke surga.

Dengan demikian, mereka kembali ke Yerusalem dengan sukacita besar dan terus memuliakan Allah dalam hidup komunitas atau persekutuan bersama yang akrab. Mereka tahu bahwa Yesus tidak meninggalkan mereka. Ia akan hadir dengan cara yang lebih dalam melalui Roh Kudus. Sehingga sukacita mereka selalu mengalir karena lahir dari iman akan janji-Nya bahwa Ia tidak meninggalkan para murid sebagai yatim piatu. Inilah iman yang mengubah pandangan bahwa kenaikan Kristus bukan kehilangan, tetapi pengutusan dalam persaudaraan. Bukan ketiadaan, tetapi kepenuhan dalam bentuk baru untuk hidup yang akan datang.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita diingatkan bahwa masa depan kita tidak gelap, karena Yesus telah mendahului kita. Ia naik ke surga bukan untuk memisahkan diri, tetapi untuk menarik kita naik bersama-Nya. Di sana, tempat tinggal telah disediakan. Namun hingga hari itu tiba, kita masih harus hidup di dunia ini dengan segala pergumulannya. Kita masih harus membesarkan dan menyekolahkan anak-anak, kita masih harus menyembuhkan luka batin karena salah kata dan tindakan, harus terus bekerja menghadapi tantangan pekerjaan berat, dan kita harus mengokohkan hidup bersama mulai dari dalam keluarga, di tempat kerja, dalam pelayanan, dan kehidupan sosial. Maka kita butuh Roh Kudus yang dijanji Yesus, yang akan kita nantikan dalam masa Novena menuju Pentakosta.

Roh Kudus bukan hanya karunia untuk para rasul di masa lalu. Ia adalah kekuatan yang nyata untuk hidup kita sekarang. Dialah penghiburan bagi yang lelah, penuntun bagi yang bingung, kekuatan bagi yang rapuh. Maka marilah kita berhenti hanya “menatap langit”, dan mulai berjalan di bumi dengan penuh semangat surgawi. Teruslah berjalan di dunia ini dengan mata menatap surga, namun kaki yang siap dan setia melayani di bumi melalui keluarga, komunitas, dan dalam pelayanan kehidupan bersama setiap hari. Jadilah pribadi yang menghadirkan Kristus dengan kasih, pengharapan, dan kesetiaan. Karena amanat yang paling kuat setelah kenaikan adalah kita diutus menjadi saksi, bukan karena kita sempurna, tapi karena kita percaya. Tuntaskanlah tugas-tugas kita dengan iman yang kuat, harapan yang membebaskan dan kasih persaudaraan yang erat. Jangan takut! Tuhan kita selalu hidup dan Ia memerintah dalam kemuliaan untuk hidup kita di bumi ini menuju surga abadi.

Petikan butiran Sabda Allah ahri ini:

“Kristus tidak naik untuk menjauh, tetapi untuk membuka langit bagi kita yang berjalan dalam debu dan air mata.”

“Iman sejati bukan sekadar menatap langit dengan rindu, tetapi melangkah di bumi dengan kasih, harapan, dan kesetiaan sebagai saksi-Nya.”

“Setiap langkah di dunia menjadi bermakna karena kita tahu arah akhirnya: kembali kepada Dia yang naik untuk mempersiapkan tempat bagi kita.”

“Ia naik, agar kita tidak lagi mencari Tuhan di kejauhan, tetapi menemukan-Nya dalam setiap langkah pelayanan yang setia.”

Tuhan memberkati kita.