Loading Now

Jangan Gelapkan Wajah Allah Dalam Sesamamu

BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian)
Kamis, 12 Juni 2025
Hari Biasa Pekan X
2 Korintus 3:15-4:1.3-6; Matius 5:20-26


JANGAN GELAPKAN WAJAH ALLAH DALAM SESAMAMU


“Hati yang diterangi oleh kasih Allah tak akan mudah menggelapkan sesama dengan kemarahan. Kata-kata yang keluar dari mulut adalah cermin dari terang atau gelap yang menguasai hati.”


Saudara-saudari yang terkasih, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus mengungkapkan bahwa Allah telah menyingkapkan tabir dan membuat terang-Nya bercahaya dalam hati kita, agar kita mengenal kemuliaan-Nya yang memancar dari wajah Kristus. Terang ini bukan hanya penerangan intelektual, melainkan transformasi batin: Allah mencurahkan terang kasih dan kebenaran-Nya agar hidup kita berubah dari dalam. Kita yang dahulu hidup dalam kegelapan dan kebutaan rohani, kini dibuka matanya untuk mengenal Allah dan menghayati hidup menurut Injil. Namun, terang ini bukan untuk disimpan, melainkan untuk memancar keluar menjadi wajah Kristus yang terlihat melalui sikap dan kata-kata kita setiap hari.


Selanjutnya dalam Injil, Yesus memberikan pengajaran yang tajam dan radikal: “Barangsiapa marah terhadap saudaranya harus dihukum.” Ia tidak hanya berbicara tentang pembunuhan secara fisik, tetapi pembunuhan martabat melalui kata-kata. Ia mengecam bukan hanya tindakan, tetapi sikap hati dan bahasa yang menyakiti: menyebut orang lain “bodoh” atau “kafir” adalah bentuk penghinaan terhadap sesama dan secara tidak langsung juga terhadap Allah yang menciptakan mereka menurut gambar-Nya. Ketika kita menggunakan kata benda yang merendahkan orang lain, bukan sekadar menggambarkan tindakan mereka: kita telah mengurung mereka dalam label, dan sering kali menutup kemungkinan pertobatan, pengampunan, dan pertumbuhan.


Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini sangat relevan dalam dunia kita sekarang, dunia yang mudah menghakimi, cepat melabeli, dan sering kali lebih tajam lidahnya daripada pedangnya. Dalam keluarga, media sosial, atau komunitas, betapa sering kita membiarkan kemarahan menumpahkan kata-kata yang menusuk, bukan karena kebenaran, tetapi karena ego dan luka yang belum sembuh. Kita memanggil orang lain “salah,” “jahat,” “tidak berguna,” bahkan kadang dengan nama-nama yang hanya Tuhan yang layak menilai.


Tuhan Yesus memanggil kita untuk menjadi anak-anak terang dan terang itu dimulai dari hati yang terbuka bagi kasih Allah, serta lidah yang dijaga oleh kelembutan dan kebenaran.


Jika terang Kristus tinggal di hati kita, maka kemarahan tidak akan mudah memenjarakan kita. Maka hari ini kita diajak bertanya pada diri sendiri: Apakah kata-kata saya mencerminkan terang Allah atau malah menjadi bayangan gelap bagi sesama?
Marilah kita mohon rahmat untuk lebih sadar akan kekuatan kata-kata, dan memohon agar terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah bukan hanya bercahaya dalam hati kita, tapi juga dalam cara kita berbicara, menilai, dan memperlakukan orang lain. Karena ketika kita menyebut seseorang dengan nama yang hina, kita sedang berbicara tentang seseorang yang diciptakan sebagai gambar Allah.


Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Setiap kata yang kita ucapkan kepada sesama adalah gema dari terang atau gelap yang tinggal di dalam hati—maka jangan biarkan lidah kita memadamkan cahaya Allah di wajah orang lain.”
“Jika Allah telah menyalakan terang-Nya dalam hatimu, biarkan cahayanya memancar dalam kelembutan kata dan kasih yang tidak melukai—karena siapa pun yang kau hina, diciptakan dalam gambar-Nya.”
“Terang Allah bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dihidupi dalam hati yang mengampuni dan lidah yang membangun.”

Tuhan memberkati kita.