Loading Now

SEJARAH PAROKI

Gereja Melania pada awal terbentuknya tidak terlepas dari keberadaan sekolah Melania yang telah berdiri sejak 1930.

Awal terbentuknya Gereja Melania bermula dari sekitar 15 umat katolik yang tinggal sekitar Gedung Sate yang sering melangsungkan ibadat di sebuah kelas di SPG Citarum. Tahun 1954-an sekitar 15 jemaat ini bertekun terus mengadakan misa dan pertemuan.

Pada tahun 1956 Pihak Yayasan St. Melania memberikan ijin kepada umat untuk mengadakan Ekaristi Kudus di salah satu ruang kelas “Sekolah Rakyat”. Umat yang berperan aktif pada masa itu adalah Bpk. Suhempa, Bpk. Simbolon, Bpk. Wongsowirono, Ibu Fatimah (Ketua Yayasan St. Melania).

Motor penggerak kegiatan menggereja saat itu adalah kelompok Doa Rosario dan kelompok Legio Maria Ratu Alam Semesta.

Para Pastor yang juga bertekun melayani Misa pada saat itu antara lain Pst. Mooy OSC, Pst. Khortum OSC, Pst. Van Haaren OSC, dan Pst. Sujud, Pr. dengan jumlah kehadiran umat dalam Misa yang bertambah menjadi 30 orang.

Sejak memiliki tempat tetap untuk mengadakan Misa Kudus, Gereja Melania semakin berkembang. Jemaat ini tidak lagi disebut sebagai kumpulan atau kelompok kecil, karena sekitar pada tahun 1968-an Gereja ini sudah menjadi sebuah stasi, stasi St. Melania, Paroki St. Petrus Katedral dengan Pastor Van Etten OSC sebagai penanggungjawabnya.

Pada tahun 1975 Stasi St. Melania sudah memiliki Buku Administrasi dan Pengurus yang bertugas membantu Pastor stasi.

Pada tahun 1977 Pst. Van Etten OSC digantikan oleh Pst. Christ Tukiyat OSC yang berkarya hanya satu tahun saja, karena kemudian bertugas menjadi Pastor Paroki di St.Petrus Katedral. Pst. Christ Tukiyat digantikan oleh Pst. Ignasius Wibisono OSC.

Di bawah penggembalaan Pst. Ignasius Wibisono ini, pada tahun 1978 Stasi St. Melania dinaikkan statusnya menjadi menjadi Paroki.

Kemudian beliau membentuk dan melantik Dewan Paroki sebanyak 13 orang dan Ketua Lingkungan dari 11 lingkungan. Didampingi oleh YB. Sutardjo, Mardjidji dan kawan-kawan ini, Pastor Wibi menggulirkan pastoral Paroki St. Melania hingga digantikan oleh Pastor Joko Setyarmo, OSC.

Tidak lama setelah pergantian ini, Ketua Yayasan Melania mempersilahkan peribadatan dan Ekaristi dilangsungkan di Gedung Serba Guna di lantai 2 gedung SD St. Melania.

Bersama Yayasan Melania ini, Keuskupan kemudian memperbaiki dan merenovasi ruangan ini menjadi bentuk ruangan Gereja, sehingga pada tanggal 30 November 1980 Gedung Serba Guna tersebut diberkati penggunaannya oleh Bapak Uskup Bandung, Mgr. Arnts OSC

Pastor Christ Tukiyat hadir kembali ke Melania sebagai pastor paroki menggantikan Pastor Joko. Kehidupan menggereja umat semakin maju. Banyak prestasi paroki yang dicapai di tingkat keuskupan seperti Lomba Koor, olahraga orang muda dll.

Namun bersamaan dengan ini, tahun 1985-1986 Pemerintah Provinsi Jawa Barat membangun Monumen Perjuangan yang terletak di lingkungan 3 dan 4, sehingga berdampak pada perpindahan umat di sekitar lokasi pembangunan.

Tahun 1988 Pastor Kris Tukiyat di gantikan oleh Pastor T. Wahardi, OSC.

Pada tahun 1992 Pst. Wahardi OSC bersama DPP mengatur penggalangan dana umat dalam satu sistem yang dinamakan Dana Terpadu yang terdiri dari Dana Kematian dan Dana Sosial. Pada periode ini Pst. Wahardi bersama DPP membuat Buku Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Paroki St. Melania yang disahkan oleh Bapak Uskup Bandung, Mgr. Alexander Djojosiswojo pada tanggal 21 April 1990.

Tahun 1992 Pst. Wahardi digantikan oleh Pst. Widyosuhardjo OSC.

Gaya koboi, dengan rambut panjang dan celana jeans, awalnya sempat mengagetkan beberapa umat Melania terutama mereka umat generasi tua. Namun tidak demikian bagi yang muda, pastor yang nyentrik ini diterima baik oleh anak-anak muda. Kehidupan menggereja kawula muda paroki sangat hidup dan maju berprestasi di tingkat keuskupan meraih juara Lomba Lektor, Pemazmur dan Calung dll.

Kemudian tugas pastoral Rm. Widyo OSC di paroki St. Melania berakhir dan digantikan oleh Rm. YC. Kristiono Hatanto, Pr.

Pst. Kris sangat memperhatikan suasana ruangan gereja yang “liturgis” misalnya dengan pengadaan gambar-gambar peristiwa Jalan Salib karya Bpk. Saman. Karya yang luar biasa ini hingga kini terus terpasang di dalam Gereja St. Melania. Pst. Kristiono sangat peduli dengan bidang liturgi, Koor, Lektor, Pemazmur, PA, Prodiakon dan petugas liturgi yang lain semua ditata dengan baik.

Pada tanggal 22 Juni 1996 terjadi satu peristiwa bersejarah bagi Paroki St. Melania karena salah satu umat anggota Misdinar Paroki St. Melania bernama Antonius Hestasusila ditahbiskan Bapa Uskup Bandung, Mgr. Alexander Djojosiswojo menjadi Imam CICM. 

Tugas Pst. Kristiono sebagai pastor paroki Melania berakhir pada tahun 2000 akhir dan digantikan oleh Romo Tri Prasetya, Pr.

Romo Tri sangat konsern dengan anak muda, sehingga bersama DPP menghimpun anak muda, menghidupkan kembali gerak anak muda paroki. Berbagai kegiatan diadakan, seperti Out Bound, Camping Rohani dan Tea Walk. Beliau juga memulai dengan menata kesekretariatan paroki yang selama ini hanya ditangani oleh Sekretaris DPP. Sejak bulan November 1999 Rm. Tri mengangkat pegawai untuk menangani kesekretariatan paroki. Beliau juga memberikan pelayanan Misa harian 2 kali seminggu.

Romo Tri melihat sarana dan prasarana “gereja” St. Melania sudah seharusnya dikembangkan sebagaimana gereja yang sesungguhnya. Segera di tahun 2000 beliau membentuk Tim/Panitia Pengembangan Gereja dan berusaha mencari lahan untuk dapat dibeli. Pada tahun itu juga Rm. Tri membuat gebrakan dengan pengadaan Bangku panjang dalam gereja.

Bersama Fr. Anton Sulas yang tahun 2000 itu diperbantukan di Paroki St. Melania, Rm. Tri juga aktif mendorong gerakan sosial dan bersama PSE paroki membentuk Balai Pengobatan Sentuhan Kasih yang berlokasi di Ruko Awiligar. Tahun 2001 Balai Pengobatan ini mulai melayani pengobatan gratis bagi warga sekitar. 

Pada akhir tahun 2001 tugas pastoral Pst. Tri di Melania berakhir dan digantikan oleh Pst. Antonius Sulastijana, Pr., yang telah mendampingi beliau lebih dari satu tahun sebagai frater.

Opsi umat Melania dan para gembala untuk memiliki gedung gereja sangat besar. Inilah yang menjadi cita-cita besar Romo Tri Ptrasetyo yang kemudian dilanjutkan usaha awalnya oleh Romo baru, Rm. Anton Sulastijana. Tahun pertama Romo Anton sebagai pastor paroki langsung membuat gebrakan dengan mengadakan Misa Padang (Misa di Alam Terbuka) Misa Peringatan Arwah di Taman Makan Pahlawan, Misa Inkulturasi, Kunjungan Lingkungan dan Misa Lingkungan.

Untuk dapat merealisasikan gagasan memiliki tempat ibadah sendiri, bulan Oktober 2003 dibentuklah Panitia Penggalangan Dana yang dikemas dalam bentuk Gala Dinner, pada 13 Februari 2004. Diselenggarakan di Ballroom Hyatt Regency Hotel Bandung, gala dinner ini menghadirkan artis-artis katolik ternama. Dari sini terkumpul dana lebih dari 500 juta rupiah yang diperuntukan membeli tanah di daerah Cijotang (sekarang sebagian telah dibangun gedung pastoran). 

Pada tahun 2009-2012 Rm. Rusbani Iwan Setyawan sebagai pastor Paroki Santa Melania, menggantikan Rm. Anton. Beliau melanjutkan program Pst. Anton, mengadakan Misa Lingkungan, kunjungan lingkungan, juga menghidupkan kelompok-kelompok Pendalaman Kitab Suci.

Pada akhir tahun 2012 Romo Iwan mendapat penugasan Bapak Uskup menjadi pastor kepala paroki Subang, beliau digantikan oleh Pst. Andreas Darman. Sebagai pastor paroki Rm. Darman selama tiga tahun (2013-2016) dibantu oleh Pst. Bambang, Pr.

Pada akhir tahun 2015 Pst. Franky Pitoy mendapat SK Bapak Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto, OSC untuk menjadi pastor kepala paroki  didampingi oleh pastor vikaris Rm. Darwanto. Pada bulan Januari 2016 Pastor Kepala Paroki bersama Pastor Vikaris Paroki menyelenggarakan Rapat Kerja DPP periode 2013-2016 bertempat di C59 dengan agenda : Evaluasi RKA 2015 dan Penyusunan RKA 2016.

Pada awal bulan April 2016 Pastor Paroki bersama Tim Formatur mengedarkan surat kepada para Ketua Lingkungan meminta agar Pengurus Lingkungan mengajukan dua nama dari lingkungan intern dan satu nama dari lingkungan ekstern untuk calon anggota DPP baru.

Pada pertengahan bulan Mei 2016 nama-nama calon yang telah dipilih oleh warga lingkungan disampaikan kepada Tim Formatur. Dari usulan nama-nama calon dari Lingkungan 1 – 19 terkumpul nama-nama calon sebanyak 43 orang.

Pada awal Juni 2016, Pastor Paroki bersama Tim Formatur menentukan 10 orang menjadi anggota DPP Inti diambil dari 43 orang calon yang diterima dari lingkungan tersebut.

Para Seksi dibawah koordinasi 4 Bidang : (Bid. Liturgi, Bid. Pewartaan, Bid. Pelayanan, Bid. Persaudaraan) dihubungi untuk diminta kesediaannya oleh Koordinator Bidang masing-masing.

Tanggal 27 Juni 2016 Anggota Dewan Pastoral Paroki Pleno resmi terbentuk, dan pada 24 – 25 Juli 2016 diadakan Pembekalan bagi Anggota DPP Pleno dengan Nara Sumber Pst. FX. Sugiyana, Pr., bertempat di Karang Tumaritis Lembang.

Pada tanggal 17 Juli 2016 Bapak Uskup Keuskupan Bandung berkenan melantik AnggotaDewan Pastoral Paroki St. Melania periode perutusan 2016 – 2019.

Pada tanggal 24 Oktober 2018 Pst. FX. Franki Paskalis Pitoy, menerima Surat Keputusan Bapa Uskup Keuskupan Bandung no. 106-SK0Mgr/X/2018 tentang Pembebasan Tugas Pastor Paroki Santa Melania Bandung, untuk selanjutnya menjadi pastor Paroki Salib Suci Purwakarta.

Tongkat estafet pengembalaan umat Paroki St. Melania dari Pst. FX. Franki Paskalis Pitoy, Pr., kepada Pst. Bernardus Jumiyana, Pr., dengan Surat Keputusan no. 105-SK/Mgr/X/2018 tanggal 24 Oktober 2018 Pst. Bernardus Jumiyana, Pr sebagai Pastor Paroki St. Melania.

Serah Terima Jabatan Pastor Paroki Santa Melania dilaksanakan pada tanggal 13 November 2018. Pada tanggal 20 November 2018 diadakan Misa Perdana Rm. Jumi di Melania bersama umat Paroki Tasikmalaya yang mengantarkan beliau ke Melania

Begitu menerima tongkat estafet sebagai pastor Paroki St. Melania, Romo Jumi langsung bekerja dengan mengumpulkan DPP Harian mengadakan rapat.

Sangat terasa suasana dan nuansa baru diberikan oleh Romo Jumi dalam rapat DPP-H , beliau demikian konseptual dalam menyiapkan agenda rapat yang terstruktur sehingga sangat memudahkan peserta rapat dan Agenda dan Program DPP tahun 2019 disusunnya dengan sangat rapih.

Ide-ide Romo Jumi sangat brilian demi pengembangan paroki dan pastoran di Jiwanaya, antara lain :

– Pemberdayaan lahan pastoran yang selama ini nampak seperti hutan ditata sedemikian rupa dengan mendatangkan alat berat (DECO) untuk kemudian ditanami jagung, kacang tanah, kool,sawi, cabe

– Pembelian lahan baru seluas kurang lebih 3000 m2 di bawah lahan lama yang direncanakan sebagai ases alternatif menuju pastoran

– Berusaha mandiri sebagai sebuah paroki sebagaimana yang dikehendaki oleh Bapa Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subiyanto Bunyamin, OSC., baik mandiri secara finansial dan mandiri cara hidup menggereja umat

– Mengadakan Safari Lingkungan untuk mensosialisasikan program-program

– Mengganti nama Badan Urusan Kematian (BUK) menjadi Amal Penguburan Katolik (APK)

– Dan lain-lain hingga saat ini terus berjalan hanya kurang dari 1 tahun Rm. Jumi menggembalakan umat Melania, sudah banyak yang beliau lakukan demi memajukan paroki ini.

Disusun oleh : Yohanes De Britto S.